Posted 3 weeks ago
Comments
Kamu sakit dirumah sakit boromeus hari itu. Saya cuma memegang empat lembar berwarna biru sampai akhir bulan.
Juga, tak pernah tahu jalan; untuk mencapai kamarmu yang mungkin kau tengah lemah dan lunglai oleh penyakit hepatitis itu.
Tanya orang sana sini ditengah hujan gerimis menelusuri jalur angkot menujumu.
Saya datang dan menunggu untuk masuk kedalam kamar menemanimu, ternyata masih banyak orang. Tunggu berjam-jam dari minum kopi seharga dua ribu dipinggir jalan depan rumah sakit.
Sampai duduk dilobby menelan rasa kantuk yang ingin segera mati. Hingga pindah ke ruang tunggu bersama satpam menonton televisi.
Sunyi, senyap, waktu kian merayap.
Barulah saya masuk dan ternyata kamu sudah tidur. Terlelap hingga suara pun harus mengendap-endap.
Duduk diatas kursi samping tempat tidur yang kau rebah dirimu diatasnya sambil usaha tetap terjaga, menunggu untuk kau panggil jika perlu apa-apa.
Ternyata tidak. Kau memanggil ia, yang juga ada disana. Lalu apa guna saya ada disana?
Kemudian saya memarahi diri sendiri sebab datang dan menyimpan satu perih untuk dikenang.
Hari terang, saya pulang.
Pergi tanpa pesan.
Karena itu saya terlalu takut untuk menjalani yang seperti itu lagi.
Menyakiti diri sendiri.
Jadi, begitulah.
Kini sila terbang kemana sayap membawamu, capung kecilku.
Dengan segala rasa yang kupunya memang lebih baik diam membisu.
Walau sudah kukubur dalam-dalam semua masa lalu.
:



